“Tunda dulu pemaknaannya,”
adalah kutipan yang terlontar dari sutradara Sore, Yandy Laurens, melalui podcast rohani Bicara Tentang, yang saya tonton sehari sebelum menonton Sore.
Kalimat ini membawa saya pada ketenangan, baik di kehidupan sehari-hari, maupun saat menonton Sore dan Tinggal Meninggal (Tingning) di hari yang sama.
I was super grateful that God rearranged my plan and put Tingning before Sore, karena nonton Sore di sore hari setelah haha hihi nangis dikit, kehangatannya paten banget di hati. Betul ini.
Sesaat setelah keluar dari Studio 4 XXI Taman Anggrek dengan air mata tersapu dikit, saya lari ke toilet, menanam kalimat “Tunda dulu pemaknaannya”, hingga sampai di bilik. “I know I should write this, and I will,” gumam saya dalam hati.
Here I am, mengetik draf blog ini sembari duduk di toilet sebelah XXI, dengan mata masih bengkak dan runny nose, ya masih ingusan. Hehe.
Bukan hanya karena plot Sore yang “Lah, pinter. Lah, bisa juga diginiin”, tapi lebih ke penerapan pesan Ko Yandy (if I may call him with that) yang saya dengar kemarin, bahwa dalam suatu hubungan dengan manusia lain, it’s important to feel and understand what we feel, karena Tuhan menanam perasaan di hati manusia bukan tanpa tujuan.
Saya yang sering nangis saat nonton film ini kembali merasa ditampar, “Kapan terakhir kali saya benar-benar embrace what I feel, to actually acknowledge and name it?” Tenggelam dalam tumpukan masalah kecil…yang kini makin menumpuk, membuat saya lupa bahwa meski saya merasa terabaikan, ada berbagai macam emotions juga yang saya abaikan.
Tolong, semakin lama saya menulis ini, semakin bengkak mata saya, air mata nggak berhenti, dan semakin enggan keluar dari toilet mal.
Tapi gapapa deh, perasaan ini nggak bisa ditunda. Saya harus lanjut demi belajar, belajar memahami kembali mereka yang bekerja dalam hati saya, mereka yang selama ini memohon untuk di-acknowledge, mereka yang selama ini ingin dianggap dan diperhatikan lagi, mereka yang terlalu lama terluka dan saya diamkan.
Ternyata Sore bukan hanya soal kisah romansa, tapi penelisikan kembali ke dalam jiwa, tentang siapa diri kita, bagaimana kita mengartikulasikan rasa, dan bagaimana kita bisa jadi kayak langit, belajar menerima our own “sore” apa adanya.
Udah dulu ya, ntar dikira tidur sama mbak yang lagi bersihin toilet. Ciao!





